Urban Farming: Solusi Ketahanan Pangan Perkotaan
Urban farming adalah praktik produksi pangan di wilayah perkotaan dengan memanfaatkan lahan terbatas secara efisien. Bukan hanya sekedar hobi, urban farming berkontribusi pada ketahanan pangan, pengurangan food miles, dan penghijauan kota.
- Hidroponik: tanaman tumbuh di larutan nutrisi tanpa tanah
- Vertikultur: bertanam vertikal menggunakan pipa/pot susun
- Container gardening: bertanam di pot/polybag
- Aquaponik: kombinasi budidaya ikan dan tanaman
- Sayuran: kangkung, pakcoy, selada, bayam (30-40 hari panen)
- Herbs: kemangi, mint, daun bawang (mudah tumbuh)
- Cabai: sekali tanam, panen 4-6 bulan
Panduan Hidroponik Sederhana (Sistem Wick): Siapkan 2 botol bekas, potong jadi 2, bagian atas terbalik jadi netpot, isi air nutrisi AB mix di bagian bawah, sambungkan dengan sumbu kain flanel, tanam bibit di rockwool, letakkan di area terang (min 6 jam sinar).
Case Study: Ibu Dina di Jakarta mengubah rooftop 20m² jadi kebun produktif. Hasil panen per bulan: 5 kg sayuran (nilai Rp 150.000), menghemat belanja dan lebih sehat karena organik.